Rabu, 12 Oktober 2016

Menjaga Kesehatan menurut Islam

Pentingnya Menjaga Kesehatan menurut Islam

Dua anugerah membuat banyak orang merugi, yaitu kesehatan dan kesempatan. (HR al-Bukhari). Gunakan dengan baik lima hal sebelum lima yang lain: masa mudamu sebelum engkau tua; sehatmu sebelum engkau sakit; kayamu sebelum engkau jatuh miskin; masa senggangmu sebelum engkau sibuk; hidupmu sebelum
 engkau mati. (HR al-Hakim)

Meski filosofi yang sering dilontarkan dalam agama adalah: “Untuk apa kesehatan?” tidak berarti agama sama sekali tidak berbicara mengenai “Bagaimana hidup sehat?”.
Ada beberapa riwayat Hadis yang mengandung ajaran-ajaran hidup sehat. Misalnya, sabda Rasulullah ?, “Lakukanlah bepergian, maka kalian sehat.” (HR Ahmad). “… dan berpuasalah kalian, maka kalian sehat.” (HR ath-Thabarani). “Orang yang tidur dalam keadaan tangannya berbau lemak, lalu ia terkena sesuatu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” (HR ad-Darimi).

Ada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menerapkan pola makan yang sehat. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam memakan kurma dengan mentimun. (HR al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah melarang tidur setelah makan (HR Abu Nuaim). Rasulullah menganjurkan mengawali berbuka dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air. (HR at-Tirmidzi) Rasulullah memerintahkan makan malam meskipun dengan setelapak kurma. (HR at-Tirmidzi).

Ada beberapa ulama yang secara khusus menulis ajaran kesehatan dalam Islam, misalnya Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam ath-Thibb an-Nabawi. Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam al-آdâb asy-Syar’iyah, secara panjang lebar mengurai pola hidup sehat yang diterapkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam Begitu pula asy-Syami dalam kitab sejarah Subulul-Hudâ wa-Rasyad, secara khusus menulis judul “Sejarah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam Menjaga Kesehatan”. Juga, Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûmiddin, tidak jarang menyinggung hikmah-hikmah kesehatan yang terdapat dalam ajaran-ajaran Islam.
Pola hidup sehat ada tiga macam: yang pertama, melakukan hal-hal yang berguna untuk kesehatan; yang kedua, menghindari hal-hal yang membahayakan kesehatan; yang ketiga, melakukan hal-hal yang dapat menghilangkan penyakit yang diderita. Semua pola ini dapat ditemukan dalilnya dalam agama, baik secara jelas atau tersirat, secara khusus atau umum, secara medis maupun non medis (rohani).
Allah berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya: … makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS al-A’raf [7]: 31)

Menurut mufasir kontemporer, semacam as-Sa’di, ayat tersebut mencakup perintah menjalani pola hidup sehat dalam bentuk melakukan dan menghindari, yakni mengonsumsi makanan yang bermanfaat untuk tubuh, serta meninggalkan pola makan yang membahayakan. Makan dan minum sangat diperlukan untuk kesehatan, sedangkan berlebih-lebihan harus ditinggalkan untuk menjaga kesehatan.
As-Sa’di juga menganggap larangan Allah dalam QS al-Baqarah: 95, “Walâ tulqû bi-aydîkum ilat-tahlukah (dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan)” merupakan prinsip umum yang bisa juga dijadikan dalil bagi kesehatan. Seorang Muslim dilarang melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, termasuk di dalamnya adalah mengonsumsi atau melakukan hal-hal yang berbahaya bagi kesehatan.
Tuntunan kesehatan fisik dalam agama tentu saja dibangun di atas pondasi kesehatan rohani, karena ajaran agama bukanlah teori-teori kedokteran. Contoh-contoh yang disebutkan di atas semuanya memiliki landasan moral, tak murni tuntunan medis.

Dalam pandangan agama, kesehatan merupakan kemaslahatan duniawi yang harus dijaga selagi tidak bertentangan dengan kemaslahatan ukhrawi atau kemaslahatan yang lebih besar. Kesehatan, kedokteran dan semacamnya sudah menyangkut kepentingan umum yang dalam pandangan Islam merupakan kewajiban kolektif (fardu kifayah) bagi kaum Muslimin.
Sebagai gejala jasmani murni, sehat dan sakit, boleh dibilang tidak secara langsung berkaitan dengan agama. Dalam pandangan agama, sehat belum tentu lebih baik daripada sakit, begitu pula sebaliknya. Sehat dan sakit merupakan dua kondisi yang sama-sama memiliki potensi untuk mendapat label baik atau buruk. Jika manusia bisa mendapat pahala atau dosa dari kondisi sehatnya, maka ia juga bisa mendapatkan pahala atau dosa dari kondisi sakitnya. Di situlah sebetulnya fokus pandangan agama mengenai sehat dan sakit. Selebihnya dari itu, merupakan pengembangan dari prinsip-prinsip moral seperti telah disebutkan di atas.
Pada dasarnya, agama sangat menganjurkan kesehatan, sebab apa yang bisa dilakukan oleh seseorang dalam keadaan sehat lebih banyak daripada yang apa yang bisa dilakukannya dalam keadaan sakit. Manusia bisa beribadah, berjihad, berdakwah dan membangun peradaban dengan baik, jika faktor fisik berada dalam kondisi yang kondusif. Jadi, kesehatan fisik, secara tidak langsung, merupakan faktor yang cukup menentukan bagi tegaknya kebenaran dan terwujudnya kebaikan.
Namun demikian, posisi kesehatan tetap sebagai sarana, bukan tujuan. Tujuan agama adalah tegaknya kebenaran dan terwujudnya kebaikan itu sendiri. Maka, oleh karena itu, dalam sabda-sabda Rasulullah dapat dengan mudah kita temukan janji-janji manis untuk orang-orang yang sakit: bahwa penyakit merupakan penghapus dosa dan mesin pahala yang besar.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa orang meninggal karena sakit perut atau terkena wabah thaun, maka ia syahid. Orang yang sabar saat kedua matanya buta, maka ia mendapat surga (HR al-Bukhari), dan lain sebagainya. Tapi, hal ini sama sekali tidak bisa diartikan bahwa Islam menganjurkan sakit perut, sakit mata, dan seterusnya. Yang dianjurkan adalah sikap tabah dan rela terhadap takdir ketika penyakit-penyakit tersebut menyerangnya. Sebab, misi agama adalah mengajak manusia agar menjadikan setiap kondisi dalam hidupnya sebagai sarana untuk mendulang kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, baik dalam kondisi sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, kuat maupun lemah, dan seterusnya.
Selain itu, janji pahala tersebut, bisa dipahami sebagai paradigma Islam dalam membesarkan hati orang-orang yang berada dalam kondisi sengsara agar ia tidak putus asa, sebagaimana Islam juga senantiasa memberikan peringatan dan menyalakan lampu kuning untuk orang-orang yang berada dalam kondisi sehat-sejahtera, agar ia tidak terlena.

Dengan demikian, maka jelas sekali bahwa agama mengajarkan hidup sehat, meskipun di balik itu, yang jauh lebih ditekankan oleh agama adalah bagaimana menggunakan kesehatannya itu untuk sesuatu yang baik. Kondisi terbaik yang paling diimpikan oleh agama bagi kehidupan masyarakat adalah kebaikan dalam kesehatan. Selebihnya dari itu, kesehatan boleh hilang asal kebaikan tetap terjaga, dalam kondisi apapun.

Rahasia Menemukan Jati Diri

        

TEMUKAN JATI DIRI ANDA

 Sering kita mendengar istilah mencari jati diri, kehilangan jati diri, atau paduan suku kata lain yang bermakna hampir sama. Obrolan dua hari yang lalu bersama seorang kawan belum menemukan titik temu arti sesungguhnya, karena pada akhirnya dia berkata belum memahami betul apa itu sejatinya jati diri, diri yang mana, dan wujudnya seperti apa. Ditambah dengan penambahan kata mencari atau kehilangan, kian menimbulkan kerancuan pemikiran kami, lalu timbullah pertanyaan, benarkah jati diri itu dicari atau ditemukan? Dan jati diri yang seperti apa sehingga bisa dikatakan hilang?

Baiklah, lewat beberapa coretan kedepan saya bersama pemikiran seadanya akan berusaha mengurai apa yang sempat terlintas di benak ini. Agar lebih paham, mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata jati diri adalah ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda, bisa pula berarti identitas, inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dari dalam atau spiritualitas. Nah, berkaca dari pengertian ini dirasa ada keambiguan seseorang dalam memaknai kata jati diri selama ini. Kalimat mencari jati diri akan terkesan rancu bila dicermati dan kali ini saya dan teman saya sepakat mengiyakannya. Bagaimana tidak rancu, bukankah jati diri itu ada dalam diri? Kenapa musti dicari? Malah saya sempat berpikir bahwa sebenarnya jati diri tak pernah hilang. Bila orang berkata hilang, saya pikir tidak. Karena, biar bagaimanapun dalam diri seseorang pasti ada sesuatu yang berbeda dari orang lain dan itu pun tidak akan pernah bisa tercuri atau hilang. Biar lebih mudah kita bisa ambil contoh air, mau dicampur atau diberi pewarna apapun sifat zat cairnya akan tetap ada. Berubah seperti apa air akan tetap dikatakan air, walau dalam wujud comberan sekalipun.

Begitu pula dengan diri kita. Janganlah merasa pesimis tentang kelabilan yang dikira masih dalam pencarian jati diri. Diri ada bukan untuk dicari. Sebetulnya ia telah tertanam dalam diri, tinggal membongkarnya saja. Andaikata memang kesulitan, seseorang tersebut belum menyadari, ditambah dengan kesibukan melihat sekitar atau orang lain malah terlupalah sejatinya diri. Menganggap orang lain lebih hebat dan lebih cocok menjadi panutan lambat laun dengan  ketertarikan tersebut akan menimbun ke’aku’ annya. Terkuburlah sosok dia yang sebenarnya dan terganti oleh sosok baru atau cermin lain. Maka tak heran ada beberapa orang yang begitu asing dengan dirinya sendiri dan muncullah kalimat ‘siapa aku?’ atau who am i? yang dikiranya dia sedang kehilangan jati diri, padahal tidak. Jati dirinya ada, cuma masih tertimbun oleh tumpukan obsesi dan tekanan ketidakpercayaan diri. Semisal, sering kita melihat seseorang berpenampilan layaknya idola yang mereka gemari. Mulai dari gaya rambut, pakaian yang dia kenakan, sampai gaya bicara pun persis. Dengan begitu, kita menjadi kesulitan melihat sosok dia yang sebenarnya. Tidak bisa dikatakan dia sedang kehilangan jati diri, terkontaminasi barangkali iya.

Akhir obrolan dengan kawan, saya melontarkan satu kata kunci ‘proses’. Untuk menonjolkan jati diri sejatinya membutuhkan proses. Kembali lagi ke pengertian yakni adanya identitas, inti, jiwa, semangat, dan daya gerak ternyata ada bukan berjalan dengan sendirinya. Terbentuknya jati diri yang kuat pastilah terlebih dahulu ditempa oleh berbagai pilihan serta problematika dalam perjalanan hidupnya. Pilihan untuk mengikuti aliran atau tetap mempertahankan kenyamanannya. Bila dia mengikuti aliran bisa jadi dia akan terbawa arus dan lupa pada tujuan serta dirinya sendiri. Kemudian muncullah golongan orang-orang alay, lebay, epigon, dan lain sebagainya. Atau dia akan tetap mempertahankan ke’aku’annya. Walaupun ini baik, bila perlakuannya berlebihan maka akan negatif juga karena bisa memunculkan orang-orang yang bersifat egois atau diktator. Idealnya, kita tetap pada kedirian dan prinsip, namun jangan melupakan keterbukaan. Jangan melupakan bahwa kita adalah makhluk sosial yang berteman dengan segala macam perbedaan.

Sebaiknya, jangan sampai kita menyiksa diri sendiri untuk mengikuti orang lain. Apa salahnya menjadi berbeda, toh itu nantinya tidak akan mengurangi kualitas diri. Banyak orang beranggapan bahwa penampilan fisik adalah segala-galanya dan merupakan bagian dari jati diri. Saya pikir tidak, justru, apa yang terbungkus dalam fisik itulah diri kita sebenarnya. Jadi, jangan lama-lama kita mau dikecoh persepsi bahwa jati diri bisa nampak jelas oleh mata melalui bungkus luar. Jangan terlalu lama pula kita bersolek hanya membenahi cover saja, sampai melupakan ketahanan spiritual yang memprihatinkan. Diri ada di dalam, kekuatan ada di jiwa, selamat berproses untuk mempertahankan dan menguatkannya…! 


Banyak orang yang tidak mengenal jati diri sendiri, sehingga membuat mereka sulit untuk menentukan hal-hal apa saja yang patut dan tidak patut untuk dilakukan oleh mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Alasan inilah yang membuat kita perlu mengetahui bagaimana cara menemukan jati diri sendiri, sehingga kita tidak mudah untuk terpengaruh dengan orang lain disekitar kita.

Pengertian Jati Diri

Sebagian orang berpendapat bahwa arti jati diri adalah suatu manifestasi ideologi hidup seseorang. Jati diri sendiri merupakan bagian dari sifat seseorang yang muncul dengan sendirinya mulai dari kecil, kemudian sifat bawaan kadang juga terpengaruh dengan faktor lingkungan tempat seseorang hidup dan dibesarkan.

Kita tentu sudah tidak asing mendengar istilah seorang anak yang sedang mencari jati diri, hal ini sering terungkap karena dalam proses pembentukan karakter yang sebenarnya pada diri seseorang adalah pada masa pancaroba, yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.

Cara Menemukan Jati Diri

Dari pengertian jati diri yang sudah dipaparkan diatas, bahwasanya jati diri itu sendiri merupakan suatu manifestasi ideologi hidup seseorang, sehingga bagaiaman cara menemukan jati diri sendiri itu juga merupakan hak mutlak bagi seorang individu untuk menentukan jati dirinya sendiri.

Ketika seseorang yang telah dapat memahami akan kemampuan dan kekuatan pada dirinya yang didasari dengan iman dan taqwa pada Tuhan, maka saat itulah seseorang sudah dapat dikatakan menemukan jati dirinya sendiri.

Seseorang, disaat mengalami suatu masalah sering merasa kebingungan bagaimana cara menyelesaikannya. Dan dari sini kemudian akan berkembang menjadi masalah lain yang menimbulkan seseorang menderita, susah, dan lain-lain. Hal ini bisa terjadi, dikarenakan tidak pernah menyadari, bahwa setiap manusia hidup didunia, mau tidak mau, suka maupun tidak,  tidak akan pernah lepas dari permasalahan. Walaupun didalam setiap doa yang disampaikan pada Tuhan, selalu meminta agar dilepaskan dari permasalahan. Padahal, sebagaimana yang pernah saya tuliskan jauh sebelumnya, bahwa manusia hidup didunia ini adalah sementara. Disamping itu, alam dunia ini bukan merupakan alam manusia yang sebenarnya, jadi kita harus selalu siap untuk mendapatkan masalah yang beraneka ragam. Jika kita tidak pernah memperhatikan, maka kita sebagai manusia akan selalu mengalami penderitaan disaat masalah telah menerpa kita.
Untuk itu, sebagai langkah awal, lewat tulisan ini saya mencoba untuk mengurai terhadap permasalahan hidup manusia yang tidak akan lepas dari munculnya suatu warna perasaan disaat permasalahan itu timbul.
Dan, agar tidak terlambat didalam antisipasi, diperlukan suatu pemikiran dan perenungan pada setiap masalah yang timbul didalam kehidupan kita sehari-harinya. Apa yang harus dipikirkan, dan direnungkan?  Yaitu, segala sesuatu yang terjadi pada hari ini, dan kemudian dicocokkan dengan apa yang telah terjadi pada hari-hari sebelumnya, khususnya terhadap segala perasaan yang timbul akibat adanya permasalahan yang kita alami. Contoh ; disaat kita  selesai marah, pikirkan dan renungkan kenapa tadi kita marah, bisakah untuk selanjutnya tidak marah lagi bila ada permasalahan yang sejenis?
Begitu pula, disaat kita selesai mengalami kesedihan, penderitaan dan lain-lain. Bisakah kita untuk tidak mengalami hal yang sama disaat perasaan itu akan timbul kembali? Adapun caranya tidak ada lain, kecuali hanya dengan berpikir, apakah jika perasaan itu muncul, adakah keuntungan yang kita dapatkan? Bila ternyata tidak ada, lantas untuk apa kita marah dan kita bersedih? Hal ini bisa menjadi bahan perenungan, disaat masalahnya telah berlalu. Sebab pada saat kita marah, kita bersedih, tentu hati kita akan jadi gelap, sehingga kita tidak akan bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Makanya saat kita bersedih, menderita, marah dan lain-lain, jangan sekali-kali mengambil suatu keputusan apapun. Lebih baik lanjutkan dahulu perasaan yang muncul pada kita. Bahkan, dalam keadaan bahagia yang melampaui batas, juga tidak diperkenankan mengambil suatu keputusan apapun. Khususnya, yang menyangkut segala sesuatu yang belum terjadi. Sebab, keputusan yang ada, akan mempengaruhi pada tindakan yang akan diambil, yang biasanya akan membuat kerugian pada diri sendiri.
Jadi, dengan adanya permasalahan-permasalahan pada diri kita, bisa mendapatkan pengalaman didalam perkembangan jiwa. Tetapi, yang sering terjadi, jika permasalahan itu timbul, khususnya perasaan marah masih sering membekas, bahkan bisa pula berakibat dendam pada seseorang.
Selanjutnya, sebagai langkah yang kedua,  disaat  berdoa, kurangilah segala hal yang secara tidak kita sadari menyuruh Tuhan untuk bekerja. Walaupun kelihatannya memohon secara halus, akan tetapi hal itu menunjukkan, bahwa kita yang menjadi Tuhan, dan memerintah Tuhan agar bekerja untuk kita. Contoh : Ya Allah mudahkan rejeki bagi kami, limpahkan rejeki, berilah kenikmatan pada kami, lapangkan dada kami masukkan kami kedalam surga. Bimbinglah kami, dan lain-lain. Menurut hemat saya, mestinya disaat berdoa harus yang mengandung arti bahwa kita yang bekerja, bukan Tuhan. Contoh doa yang benar adalah” Ya Allah, petunjuk apa yang harus aku laksanakan agar rejeki ku lancar”. Ya Allah Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa masuk surga, seperti mereka-mereka yang masuk surga? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan supaya aku semakin dekat denganMu dan jauh dari kesesatan?  dan sebagainya, tergantung konteks doa apa yang kita kehendaki.  Ini hanya sekedar contoh, bagi mereka yang belum mengenal jati diri. Adapun bagi mereka yang telah mengenal jati diri, saya yakin bahwa mereka disaat berdoa, tidak akan pernah menggunakan kata-kata, melainkan cukup dengan suatu perbuatan untuk mencapai sesuatu. Namun, bila hal ini tidak saya tulis, lantas sampai kapan kita akan berhenti menyuruh Tuhan terus menerus? Sampai kapan kita akan dewasa dan mandiri?  Dan sampai kapan kita bisa benar-benar berbakti kepada Tuhan?
Kesimpulannya, dengan langkah doa yang saya sebutkan diatas, kita akan tertuntun untuk selalu bekerja sesuai dengan petunjuk Tuhan, bukan malah sebaliknya kita yang memerintah Tuhan untuk bekerja. Walaupun cara doa seperti yang lazim kita pergunakan itu adalah sah-sah saja. Akan tetapi, apabila doa seperti itu berkelanjutan terus menerus akan membuat kita malas untuk berusaha dan bekerja, serta akan pula kecanduan untuk menyuruh orang lain mengerjakan apa yang menjadi kesulitan kita. Sementara kita, hanya tinggal ongkang-ongkang kaki saja, dan tinggal memakainya. Bukankah saat ini kita sering hanya sebagai pendengar, penonton, dan juga pemakai belaka? Dan jarang sekali yang sebagai pelaku sejarah, kendatipun itu hanya sejarahnya sendiri. Amat ironis sekali. Namun diantara kita masih belum menyadari, sehingga doa seperti yang menurut kita lazim, dan memang ada pedomannya, tetap saja dilakukan. Dengan adanya cara, dan redaksi doa yang masih seperti itu, akan membuat kita kebiasaan menyuruh orang lain. Atau setidak-tidaknya kita akan berlomba-lomba untuk menggunakan segala cara, bagaimana bisa selalu menyuruh orang lain terhadap kepentingan kita. Dengan demikian yang perlu saya pertanyakan dimanakah unsur kebaktian kita kepada Tuhan? Dan apakah kebaktian dan ibadah itu memang harus menyuruh Tuhan? Sehingga, semakin sering kita menyuruh Tuhan lantas kita dikatakan beriman kepada Tuhan?
Sebagai langkah yang ketiga atau terakhir, janganlah sekali-kali kita makan, minum atau lain-lain, yang sekiranya kita tidak benar-benar membutuhkan. Juga, jangan seringkali memikirkan segala sesuatu yang telah berlalu, walaupun itu pahit atau senang. Tetapi selalu melangkahlah kedepan agar kita tidak selalu terganjal oleh masa lalu. Dan sering-seringlah berlatih untuk bertanya pada dirinya sendiri apa yang harus dilakukan, sembari membaca, memperhatikan, berpikir, dan merenung, bahwa segala sesuatu yang terjadi, akan terjadi, adalah merupakan variabel yang memang harus dilalui serta diketahui oleh Tuhan yang telah menciptakan kita beserta alam seisinya ini. Bahkan segala sesuatu yang tidak mungkin terjadi, bisa saja terjadi. Sehingga dengan begitu, apabila kita selalu berlatih untuk mengajak diskusi dengan diri sendiri, diharapkan “jati diri “kita akan muncul dengan sendirinya. Bahkan, kalau sudah terbiasa, kita akan sering mendengar suara kita sendiri, atau melihat diri kita sendiri. Karena sesungguhnya itulah yang benar. Dan, dia itulah yang selama ini melihat dan mendengar, kendati tanpa mata dan telinga, seperti apa yang pernah saya tulis terdahulu, yakni “mendengar warna dan melihat suara”.
Jati Diri dalam Pandangan Islam
JATI DIRI itu tentang tujuan akhir kita menghadap Allah SWT. Sebab JATI DIRI itu wajah batiniah kita. Wajah Ukhrawi kita. Seperti apakah wajah kita di hari kiamat kelak masih manusiakah atau berbentuk binatang. Krn umumnya kita belum bisa melihat secara kasat mata.Mungkin nanti saat menghembuskan nafas yg terakhir. Disitu kita akan terbelalak spt di dlm firman ALLAH SWT: QS.Qaf (55):22

"Maka kami singkapkan tirai yg menutup matamu dan tiba-tiba matamu hari ini menjadi amat tajam"
Didalam hadist RASULULLAH SAW yg dikutip dari tafsir Majma Al-Bayan 10:43 yg mengisahkan bagaimana wujud manusia pd hari kiamat kelak.

Pd suatu hari Muadz bin Jabal duduk di dekat Nabi SAW di rumah Ayub Al-Anshari. Muadz bertanya :

"Ya Rasulullah SAW apa yg dimaksud dengan ayat pd hari ditiupkan sangsakala dan kalian datang bergolong-golongan?"

Di dalam QS.An-Naba (78):18

Rasulullah SAW menjawab:

"Hai Muadz,kamu telah bertanya ttg sesuatu yg berat. Umatku akan dibangkitkan dalam 10 golongan. Allah SWT memilah mereka dari kaum muslimin dan mengubah bentuk mereka sebagian berbentuk monyet,sebagian lagi berbentuk babi,sebagian lagi berjalan terbalik dg kaki di atas dan muka dibawah lalu diseret-seret,sebagian lagi buta merayap-rayap,sebagian lagi tuli bisu tdk bisa berpikir,sebagian lagi menjulurkan lidahnya yg mengeluarkan cairan menjijikan semua orang,sebagian lagi mempunyai kaki & tangan terpotong,sebagian lagi disalipkan pd tonggak-tonggak api,sebagian lagi punya bau yg lebih menyengat dari bangkai,sebagian lagi memakai jubah ketat yang mengoyak-ngoyakan kulitnya".

Sehingga yg menentukan JATI DIRI kita sekarang & juga nanti adalah amal-amal kita selama di dunia.
Semoga dapat bermanfaat

MEMAHAMI HAKIKAT FILSAFAT DAN FILSAFAT ILMU

1. Faktor-faktor Pendorong Timbulnya Filsafat dan Ilmu

Setiap kejadian atau peristiwa pada dasarnya tidak dapat lepas dari peristiwa-peristiwa lain yang mendahuluinya. Jadi, sesuatu itu bias terjadi karena ada hubungan dengan peristiwa sebelumnya. Oleh karena itu kejadian demi kejadian atau peristiwa demi peristiwa haruslah selalu diperhatian kehadirannya. Demikian pula dengan apa yang disebut filsafat dan ilmu, ia muncul dan berkembang bukan karena ia sendiri, melainkan adanya sesuatu (peristiwa) yang memicu muncul dan berkembangnya. Menurut Rinjin (1997 : 9-10), filsafat dan ilmu timbul dan berkembang karena akal budi, thauma(sia), dan aporia.

a. Manusia merupakan makhluk berakal budi.

      Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berbudaya, sehingga manusia memiliki akal dan budi, dengan demikian manusia diberi kemampuan untuk berkomunikasi dan dengan berkomunikasi itu sebenarnya manusia adalah mahkluk yang berbahasa. Didalam penyampaiannya selalu berbahasa dan oleh karena itu manusia bias disebut sebagai mahkluk yg berbahasa (homo loquens) dan yg selalu menggunakan symbol-simbol (animal symbolicum). Dengan akal budinya, manusia dapat berpikir abstrak dan konseptual sehingga dirinya disebut sebagai homo sapiens (makhluk pemikir) dan yang ditandai dengan sifat selalu ingin tahu. Pada diri manusia melekat kehausan intelektual (intellectual curiosity), yang menjelma dalam wujud aneka ragam pertanyaan. Bertanya adalah berpikir dan berpikir dimanifestasikan dalam bentuk pertanyaan. Saling berjalin kelindan.

b. Manusia memiliki rasa kagum (thaumasia)

    Manusia memliki rasa kagum yang terutama ditunjukkan pada alam semesta. Rasa kagum itu bukan dari hasil belajar, melainkan berasal dari Sang Pencipta, oleh karena itu setiap manusia memiliki rasa kagum itu. Rasa kagum itu muncul terutama pula pada berbagai hal yang bagi manusia sulit untuk dijelaskan keberasaannya, misalnya rasa kagum terhadap matahari, bumi, pada diri sendiri dll. Akan tetapi justru dari rasa kagum itulah manusia kemudian mencari tahu asal-usl, sebab akibat dan lain-lain, dan ini disebabkan pula oleh rasa keingintahuan (sense of curiosity) manusia atas ketidaktahuannya itu. Bahkan ia juga berusaha untuk bisa mengetahui kehidupan ini, berusaha untuk mengetahui keberadaan dirinya sendiri.

c. Manusia senantiasa menghadapi masalah
    Hal lain yang juga menjadi pendorong munculnya adalah berbagai permasalahan yang selali dihadapi oleh manusia (aporia). Masalah demi masalah akan selalu dihadapi oleh manusia, baik permasalahan yang akan berhubungan dengan kehidupan praktis maupun akan berhubungan dengan kehidupan teoritis. Manusia akan selalu terdorong untuk bisa mengatasi berbagai masalah yang muncul tersebut. Manusia akan selalu mencari jalan keluarnya dan tidak jarang akan memunculkan berbagai temuan baru yang sangat berharga atau berarti bagi kehidupan manusia. Intinya selalu berproses untuk menyelesaikan masalah.

2. Hakikat Filsafat

a. Pengertian Filsafat
    Filsafat (terjemahan dari bhs Inggris philolophy) berasal dari bahasa Yunani, yaitu philo, philia, philein (love of ) dan Sophia atau sophos (wisdom). Oleh karena itu secara etimologis filsafat artinya cinta atau MENCINTAI akan kebajikan/kebijaksanaan (love of wisdom). Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Dengan demikian filsafat memiliki makna, yaitu hasrat yang menggebu atau keinginan yang sungguh-sungguh/kemauan keras akan kebenaran sejati. Berdasarkan arti tersebut, para ahli kemudian merumuskan arti dari filsafat itu sendiri. Ada yang menguraiakan bahwa filsafat sebagai suatu upaya untuk berpikir secara radikal dan menyeluruh, cara berpikir dengan mengupas obyek sedalam-dalamnya.

Kattsoff, sebagaimana dikutip oleh Associate Webmaster
Professional (2001), menyatakan bahwa karakteristik filsafat adalah:
•Filsafat adalah berpikir secara kritis dan radikal (mendalam)
•Filsafat adalah berpikir dalam bentuknya yang sistematis.
•Filsafat mengahasilkan sesuatu yang runtut atau koheren
•Filsafat adalah berpikir secara rasional dan konspetual
•Filsafat bersifat komprehensif.

b. Objek Filsafat
Obyek filsafat ada dua, yaitu :
• Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, yang meliputi : ada dalam kenyataan, ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan,
• Objek formal filsafat adalah hakikat dari segala sesuatu yang ada (Lasiyo dan Yuwono, 1994 : 6).

c. Sistematika Filsafat
Sebagaimana pengetahuan yang lain, filsafat telah mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan bermacam-macam aliran dan cabang.
• Aliran-aliran Filsafat. Ada beberapa aliran filsafat dinataranya adalah : realisme, rasionalisme, empirisme, idealisme, materialisme, dan eksistensialisme.
• Cabang-cabang Filsafat. Filsafat memiliki cabang-cabang yang cukup banyak dinataranya adalah : metafisika, epistemologi, logika, etika, estetika, filsafat sejarah, filsafat politik, dst.

3. Hakikat Filsafat Ilmu

a. Pengertian Filsafat Ilmu
   Terdapat banyak definisi/pengertian mengenai filsafat ilmu misalnya:
Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep-konsep, dan pra-anggapan-pra-anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual temologi (filsafat pengetahuan) yang ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan mengenai hakikat ilmu sebagai berikut :
a.Kelompok pertanyaan pertama antara lain sebagai berikut ini. Objek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangap manusia ? (disebut dengan istilah Ontologis)
b.Kelompok pertanyaan kedua : Bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang dimaksud dengan kebenaran ? Dan seterusnya. (disebut dengan istilah epistemologis)
c.Kelompok pertanyaan ketiga : Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu ? Bagaimana kaitan antara cara menggunakan ilmu dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Dan seterusnya. (disebut dengan istilah aksiologis)
b. Karakteristik filsafat ilmu
Berdasarkan uraian di atas maka dapat diidentifikasi karakteristik filsafat ilmu, yaitu:
• Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat.
• Filsafat ilmu berusaha menelaah ilmu secara filosofis dari sudut pandang ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
c. Objek filsafat ilmu
• Objek material filsafat ilmu adalah ilmu
• Objek formal filsafat ilmu adalah ilmu atas dasar tinjauan filosofis,yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
d. Manfaat Mempelajari filsafat ilmu
•Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
•Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
•Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya. Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan dan kedalaman berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi. Dalam konteks inilah pengalaman mempelajari filsafat ilmu diterapkan.